Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Agustus 2011

Penghianat Bangsa



Lelaki tua itu selalu suka mengenakan lencana merah putih yang disematkan di bajunya. Di mana saja berada, lencana merah putih selalu menghiasi penampilannya.

Ia memang seorang pejuang yang pernah berperang bersama para pahlawan di masa penjajahan sebelum bangsa dan negara ini merdeka. Kini semua teman seperjuangannya telah tiada. Sering ia bersyukur karena mendapat karunia umur panjang. Ia bisa menyaksikan rakyat hidup dalam kedamaian.

Tak lagi dijajah oleh bangsa lain. Tidak lagi berperang gerilya keluar masuk hutan. Tapi ia juga sering meratap-ratap setiap kali membaca koran yang memberitakan keadaan negara ini semakin miskin akibat korupsi yang telah dianggap wajar bagi semua pengelola negara.
Banyak kekayaan negara juga dikuras habis-habisan oleh perusahaan-perusahaan asing yang berkolaborasi dengan elite politik. Kini, semua elite politik hidup dalam kemewahan, persis seperti para pengkhianat bangsa sebelum negara ini merdeka. Dulu, pada masa penjajahan, para pengkhianat bangsa menjadi mata-mata Kompeni.

Saat itu ia ditugaskan oleh Jenderal Sudirman untuk membersihkan negara ini dari pengkhianat bangsa yang telah tegamengorbankan siapa saja demi keuntungan pribadi. ”Para pengkhianat bangsa adalah musuh yang lebih berbahaya dibanding Kompeni. Mereka tak pantas hidup di negara sendiri. Kita harus menumpasnya sampai habis. Mereka tak mungkin bisa diajak berjuang karena sudah nyata-nyata berkhianat,” Jenderal Sudirman berbisik di telinganya ketika ia ikut bergerilya di tengah hutan.

Ia kemudian bergerilya ke kota-kota menumpas kaum pengkhianat bangsa. Dengan menyamar sebagai penjual tape singkong dan air perasan tape singkong yang bisa diminum sebagai pengganti arak atau tuak,ia mendatangi rumah-rumah kaum pengkhianat bangsa. Banyak pengkhianat bangsa yang gemar membeli air perasan tape singkong. Ia begitu dendam kepada kaum penkhianat bangsa. Mereka harus ditumpas habis dengan cara apa saja. Dan ia memilih cara paling mudah tapi sangat ampuh untuk menumpas kaum pengkhianat bangsa. Air perasan tape singkong sengaja dibubuhi racun yang diperoleh dari seorang sahabatnya berkebangsaan Tionghoa yang sangat mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tak ada yang tahu, betapa kaum pengkhianat bangsa tewas satu persatu setelah menenggak air perasan tape singkong yang telah dicampur dengan racun.

Dokter-dokter yang menolong mereka menduga mereka mati akibat serangan jantung. Dukun-dukun yang mencoba menolong mereka menduga mereka mati akibat terkena santet. Pemuka-pemuka agama yang mencoba menolong mereka menduga mereka mati akibat kutukan Tuhan karena mereka telah banyak berbuat dosa.

LELAKI tua itu merasa ingin tetap menjadi pejuang, meski pada saat ini usianya sudah 80 tahun. Sering ia ingin berjuang menumpas kaum pengkhianat bangsa yang kini semakin membuat negara ini miskin tertimbun hutang yang berbunga-bunga.
Sejak istrinya wafat, ia memang diminta tinggal bersama cucunya yang paling kaya. Tanpa sepengetahuannya, cucunya itu adalah seorang pengusaha besar yang diam-diam ikut mengekspor kayu ke negara-negara lain secara ilegal. Cucunya bekerja sama dengan kaum penebang liar yang telah merusak ribuan hektar hutan di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera.
Di depannya, cucunya selalu berpura-pura membenci kaum pengkhianat bangsa yang telah merusak hutan. Dan pagi itu, ia bersama cucunya menikmati sarapan bersama, lalu membaca koran yang baru saja diantar loper. Koran itu memberitakan rusaknya hutan Indonesia akibat kerakusan sekelompok orang yang layak disebut sebagai pengkhianat bangsa dan negara.

Mereka betul-betul telah mengkhianati bangsa dan negara yang telah memberinya kepercayaan untuk menjaga hutan tapi kemudian merusak hutan. ”Pada masa penjajahan, hutan kita tidak rusak padahal tidak ada yang menjaganya. Kini hutan kita semakin rusak padahal dijaga banyak pihak”. Ia bergumam dengan kesal dan sedih. Cucunya tertawa dan menghiburnya dengan kata-kata lembut.

”Jangan sedih, Eyang. Hutan kita pasti akan kembali baik setelah tunastunas pohon tumbuh besar. Tapi kalau hutan kita semakin gundul, lebih baik dibuka untuk lahan pertanian atau berkebunan saja”. Ia tersenyum kecut. Kata-kata cucunya itu membuatnya masygul. Sebab, kenyataannya, lahan pertanian dan lahan perkebunan yang ada semakin sempit akibat pemekaran kampungkampung penduduk.
”Eyang sudah tua. Lebih baik menikmati kemerdekaan ini dengan sebaik- baiknya tanpa memikirkan bangsa dan negara yang sudah damai ini”.
Cucunya kembali menghiburnya dengan kata-kata lembut. Ia masih saja tersenyum kecut. Rasanya ia ingin tetap berjuang menumpas kaum pengkhianat bangsa dan negara yang saat ini merajalela memperkaya diri sendiri.

LELAKI tua itu baru saja habis sarapan bersama cucunya. Dan seperti biasanya, ia lalu membaca koran yang baru saja diantar loper.Tiba-tiba cucunya disergap oleh satu regu aparat penegak hukum dengan tuduhan sebagai penjarah hutan. Mereka juga menggeledah rumah mewah itu untuk mencari barang bukti yang dibutuhkan untuk proses hukum di persidangan nanti.

”Benarkah cucuku ikut merusak hutan?” tanyanya kepada seorang aparat yang sedang sibuk menggeledah kamar tidur. ”Ya, betul,Pak Tua. Cucu Anda sudah lama kami lacak.Semula kami menduga dia tinggal di luar negeri.Tapi ternyata dia tinggal di rumah ini”.

”Dengan siapa saja cucuku merusak hutan?” Seorang aparat itu hanya tersenyum sambil memandangi lencana merah putih yang disematkan di baju lelaki tua itu. Lalu bertanya, ”Maaf, apakah Pak Tua dulu seorang pejuang yang pernah berperang melawan Kompeni?” ”Ya, begitulah. Dan sampai sekarang aku ingin tetap berjuang. Sekali berjuang tetap berjuang sampai mati,” ”Bagaimana perasaan Pak Tua setelah melihat si cucu ternyata telah menjadi pengkhianat bangsa dan negara dengan ikut merusak hutan?” ”Aku sangat kecewa dan sedih. Dan jika ternyata cucuku memang terbukti bersalah, aku akan menghukumnya dengan mengeksekusi mati”.

”Dengan cara apa Pak Tua akan mengeksekusi mati si cucu yang telah ikut merusak ribuan hektar hutan itu?” ”Dengan cara yang sama seperti yang dulu sering kulakukan untuk menumpas kaum pengkhianat bangsa pada masa penjajahan”.

LELAKI tua itu menjenguk cucunya yang ditahan di dalam sel khusus.Tampak cucunya sangat murung dan kedinginan. Biasanya tidur di atas kamar tidur mewah, kini terpaksa tidur di sel yang sempit dan dingin. ”Tolong Eyang, kalau datang menjenguk saya lagi, bawakan minuman yang bisa menghangatkan badan,”Cucunya berpesan sambil tersipu malu.

”Kamu mau minum air perasan tape singkong?” tanyanya. Cucunya mengangguk. Esoknnya, ia datang lagi menjenguk cucunya di dalam sel khusus dengan membawa sebotol air perasan tape singkong yang telah dicampur dengan racun tikus. Racun tikus itu mirip dengan racun yang dulu digunakan untuk menghabisi kaum pengkhianat bangsa dan negara. Air perasan tape singkong itu hanya dicampur dengan sedikit racun tikus, agar cucunya tidak langsung mati sehabis meminumnya.

Mungkin dua atau tiga jam kemudian baru tertidur untuk selamanya setelah menenggaknya. ”Sebaiknya air perasan tape singkong ini kamu minum menjelang malam nanti, biar kamu tidak kedinginan, sehingga bisa tidur nyenyak sampai pagi,” ujarnya ketika menyodorkan sebotol air perasan tape singkong bercampur racun tikus kepada cucunya. Dan esoknya, pagi-pagi sekali ada kabar cucunya sudah tewas di dalam sel tahanan. Dokter yang memeriksa jenazah menduga cucunya mati akibat serangan jantung.

LELAKI tua itu tersenyum lega sehabis mengikuti prosesi pemakaman cucunya. Sambil berdiri di depan cermin, ia melihat lencana merah putih tersemat di bajunya. Ia merasa semakin bangga karena bisa melanjutkan perjuangan pada saat bangsa dan negara ini sudah merdeka lebih dari setengah abad. Ia yakin, sampai kapan pun pasti selalu ada pengkhianat bangsa dan negara. Dan ia ingin terus berjuang menumpas pengkhianat bangsa dan negaranya. Ia benar-benar seorang pejuang sejati.

TUMPASKAN SEMUA PENGHIANAT BANGSA !

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.
Sponsored By :
http://www.kios108.com/

Sabtu, 30 Juli 2011

Kebebasan Berekspresi di Internet


Kebebasan Berekspresi internet
Nah kalau berbicara mengenai internet, apa sih yang kalian ketahui di internet ini ?
Pasti semuanya pada jawab facebook atau twitter kan.
Facebook, jejaring sosial yang banyak diakses oleh masyarakat Indonesia dan terbukti pengguna facebook di Indonesia sekarang sudah mencapai 30,1 juta atau negara peringkat ke-2 pengguna facebook terbanyak di dunia. Bagaimana dengan jejaring sosial Twitter ? Pengguna twitter di Indonesia mencapai 6,2 juta dan nomor 3 terbanyak di Asia

Dengan jumlah pengguna internet sebanyak itu, maka timbul lah pertanyaan
Bagaimana dengan kondisi kebebasan berekspresi via internet di Indonesia ?

Menyikapi pertanyaan ini, kebebasan berekspresi lewat internet memang sah-sah saja dilakukan.
Update status di facebook atau twitter siapa sih yang ngelarang?
Namun ada saja masyrakat yang menyamakan kebebasan dengan kebablasan penuh.
Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab malah mengambil kesempatan dari kebebasan ini untuk melakukan hal-hal negatif. Media jejaring sosial yang seharusnya untuk berkenalan dengan orang lain malah mereka gunakan untuk mencari korban-korban.Contoh : penculikan lewat jejaring sosial,  penipuan online, pembuatan situs porno dan lain-lain. Sehingga merusak citra Indonesia.

Namun dibalik semua itu, masih banyak orang juga yang dapat mengambil dampak positif dari internet ini.
Melalui kebebasan berekspresi inilah tumbuh masyarakat-masyarakat Indonesia yang kreatif.
Kenapa begitu?
Karena dengan itulah masyarakat Indonesia dapat menyalurkan kreativitas mereka di Internet
Lihat saja, tidak lama ini, negeri kita kebanjiran artis dadakan seperti Sinta&Jojo, Udin, dan Briptu Norman.
Dengan pengguna internet terbanyak di dunia, seharusnya masyrakat juga dapat memanfaatkan dari internet ini. Seperti Bapak Blassius Haryadi, salah satu tokoh film linimas(s)a. Siapa yang mengira seorang tukang becak bisa mendapatkan penghasilannya berkat jejaring sosial seperti facebook ?
Namun inilah adanya,  Bapak Harry dapat memadukan internet dengan pekerjaannya. Di facebook lah beliau dapat mempromosikan pekerjaannya sebagai tukang becak untuk menggait pelanggan lokal ataupun wisatawan asing. Terbukti kan bahwa masyrakat Indonesia itu memang kreatif.
  
Lalu Bagaimana sebaiknya pengguna Internet di Indonesia dalam mengatur dirinya sendiri?

Internet memberikan kita segalanya, namun kita seharusnya hanya mengambil ilmu-ilmu yang bermanfaat dan tentunya bersifat positif dari internet. Kita juga seharusnya dapat menahan diri kita agar tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif. Kunci dari semua ini adalah Berinternetlah dengan Sehat.



Mohon maaf kalau artikel ini kurang memuaskan -,- karena baru pertama kali ikutang lomba blogging @internetsehat 

Sabtu, 23 Juli 2011

Mari Kita Mengenal PUISI



Artikel ini terinspirasi dari teman yang pada saat itu sedang membaca puisi kemarin (keren abis deh!). Langsung ke topiknya dah. Dalam Kesustaraan, puisi merupakan karya sastra yang paling tua. Mungkin sebagian besar sering mendengar nama Shakespeare dengan Hamletnya, Chairil Anwar (Yang ini mah asli orang Indo gan) dengan Deru Campur Debu-nya (kumpulan puisi). Puisi memang bisa dikatakan sebagai karya monumental. Namun seiring perkembangan jaman, puisi sudah mulai dikenal oleh kita sebagai hiasan keseharian yang mungkin bisa digunakan sebagai sarana melepaskan segala luapan emosi atau pengalaman hidup.

Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.


PUISI LAMA


Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :

Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama
1. Ciri-ciri Puisi Lama

Ciri puisi lama:
a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima
2. Jenis Puisi Lama

Yang termasuk puisi lama adalah

a) Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib
b) Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka
c) Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek
d) Seloka adalah pantun berkait
e) Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat
f) Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita
g) Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris

3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Lama

a) Mantra
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
b) Pantun
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
c) Karmina
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)
d) Seloka

Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
e) Gurindam

Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
f) Syair
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
g) Talibun

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
4. Ciri-ciri dari jenis puisi lama

a) Mantra

Ciri-ciri:
  • Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.
  • Bersifat lisan, sakti atau magis
  • Adanya perulangan
  • Metafora merupakan unsur penting
  • Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
  • Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.

b) Pantun


Ciri – ciri :
Setiap bait terdiri 4 baris
Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
Baris 3 dan 4 merupakan isi
Bersajak a – b – a – b
Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
Berasal dari Melayu (Indonesia)
c) Karmina

Ciri-ciri karmina
Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
Bersajak aa-aa, aa-bb
Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
Semua baris diawali huruf capital.
Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
d) Seloka

Ciri-ciri seloka

Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,
Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
e) Gurindam

Ciri-ciri gurindam
Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian
baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
f) Syair

Ciri-ciri syair
Terdiri dari 4 baris
Berirama aaaa
Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair
g) Talibun

Ciri-ciri:
Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

Puisi Baru

Quote:
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

1. Ciri-ciri puisi baru
a) bentuknya rapi, simetris;
b) mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
c) banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
d) sebagian besar puisi empat seuntai;
e) tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
f) tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
2. Jenis-jenis puisi baru

menurut isinya, puisi dibedakan atas :
  • balada adalah puisi berisi kisah/cerita
  • himne adalah puisi pujaan untuk tuhan, tanah air, atau pahlawan
  • ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
  • epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
  • romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
  • elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
  • satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

     
    Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes